*Sebuah catatan untuk menginspirasi dan memotivasi sesama ibu-ibu rumah tangga yang sedang mengalami kejenuhan dan tengah dilanda kebosanan yang amat sangat akibat hanya melakukan aktifitas yang itu-itu aja... Hidup itu petualangan... Jadikan hidup ini menjadi petualangan-petualangan yang mengasyikan dan penuh makna, meski sebenarnya kita bukanlah seorang petualang sejati...* v(^^,)
"Hidup pasti lebih bergairah, jika dijalani seperti penjelajah. Penuh rasa ingin tahu, menyukai setiap hal tak terduga, antusias pd perubahan. Tidak mandek ketika situasi menjadi mapan, berani berpikir dan melakukan yg berbeda. Ini memang soal keberanian,sekaligus kecermatan mengukur besarnya resiko. Columbus 'tak sengaja' menemukan Benua Amerika. Marcopolo melintasi separuh dunia untuk mencapai daratan Cina. Namun siapa pun bisa menemukan 'dunia-dunia baru' yg tak terbayangkan sebelumnya jika saja mau membiarkan dirinya melangkah lebih jauh dr tempatnya berdiri sekarang." <Petty Fatimah, Pemimpin Redaksi Majalah Femina, seperti dikutip pada Femina Edisi Tahunan 2010> Kalimat-kalimat yg penuh inspirasi... Apalagi terpampang foto-foto sang pemimpin redaksi saat sedang 'berpetualang' ke Rotorua-New Zealand, Pamukalle-Turki dan Namibia-Afrika. Hiks,bikin iri aja... Terbayang asyiknya menjadi seorang penjelajah, menjadi seorang petualang,become the real adventurer...
Seorang teman terus-menerus meng-up date status tentang rencananya berpetualang ke sebuah pulau nun jauh di belahan Timur Indonesia yang menurutnya asyik untuk dijelajahi... Meski belum pernah ke sana, tapi dia bisa dengan fasih bercerita tentang tempat-tempat indah dan menarik yang hendak dijelajahinya bareng cs-csnya... Maklum, sebelumnya dia sudah surving n browsing via internet, spot-spot mana saja yang hendak mereka tuju. Dan membaca note atau blog pribadinya, yang ada hanyalah perasaan iri dan ngiler... Wuaaaah, lucky you... When will I go there... I wish I could be like her... Ihiks,ihiks... Setiap ada kesempatan dan tentunya juga uang, tak pernah dia melewatkan momen liburan ke tempat-tempat yang mengasyikan, baik hanya berkisar di seputar Indonesia ataupun mancanegara. Sepertinya dia memang bekerja dengan tekun, rajin, keras dan semangat agar bisa membiayai kegemarannya berpetualang menjelajahi tempat-tempat baru yang asyik. Pantai-pantai nan eksotis, peninggalan-peninggalan sejarah dan cagar budaya suatu bangsa, pegunungan yang hijau, hutan yang masih perawan, jalan-jalan yang berkelok-kelok dan penuh liku, hamparan sawah nan membentang, penduduk asli yang masih primitif, wisata kuliner menyicipi makanan khas suatu daerah... Semuanya didokumentasikannya dengan apik. Apalagi dia juga punya bakat fotografi yang membuat momen-momen yang pernah dilaluinya tampak begitu indah dan nyata meski hanya diperlihatkan dalam bentuk gambar. Namun bukan perjalan kelas satu yang sering dilakukannya. Travelling ala backpacker justru itu yang biasa dilakukannya. Menginap di penginapan-penginapan murah meriah yang kadang dipenuhi nyamuk-nyamuk nakal, menumpang kendaraan-kendaraan yang kadang tidak enak dan tidak nyaman ditumpaki, makan seadanya... What a real adventurer...
Sementara temanku yang lain yang berprofesi sebagai wartawan, ketika sedang bertugas meliput ke manca negara selalu menyempatkan diri, kadang curi-curi waktu untuk menjelajahi tempat-tempat yang dikunjunginya. Dia yang memang berjiwa petualang sejak dulu, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan itu. Kapan lagi... Meski sedang dikejar deadline dan tumpukan tugas yang seolah tak ada henti-hentinya, menjelajahi sudut-sudut kota, berpose di depan landmark-landmark negara yang sedang dikunjunginya, sekedar mencicipi makanan dan minuman yang tidak sengaja dijumpainya di pinggir jalan, adalah sesuatu yang wajib dilakukannya. Dan biasanya dia akan menuliskan pengalaman yang dialaminya di blog pribadinya. Berhubung dia adalah seorang wartawan, wajarlah kalau tulisannya enak dibaca. Seolah kita sendiri yang mengalaminya. Beruntunglah dia karena memiliki kesempatan yang tidak semua orang mendapatkannya. What a real adventurer... Dan entah berapa banyak teman lagi yang menurutku memiliki pengalaman dan perjalanan hidup yang seru dan mengasyikan, yang menurutku bisa dikategorikan sebagai petualang. Profesi dan kegiatan mereka telah membuat mereka melanglang buana, berpetualang bahkan jauh sampai ke negeri orang. Foto-foto mereka merepresentasikan sejauh mana mereka melangkah dan menapakkan kaki. Wow, lucky you... Aku hanya bisa berujar dalam hati. Ada rasa iri menyeruak... Huhuhu, hidupku kok gini-gini aja ya... Oh, poor me... Hehehe... Sekali lagi, lucky you guys... Hehehe.
*****
Adventurer... Petualang... Penjelajah... Dalam benakku adalah mereka yang memiliki kesempatan untuk menjelajahi berbagai tempat yang seru, asyik, eksotik, menyenangkan, kadang penuh resiko dan berbahaya, kadang juga unik, namun memberikan kesenangan dan kenikmatan bagi yang mengalami dan menjalaninya... Seperti acara-acara TV macam 'Jejak Petualang', 'Si Bolang', atau'Backpacker'... Beruntunglah semasa SMU dan kuliah dulu, meski belum pernah sekalipun tergabung sebagai anggota klub pecinta alam, aku bisa mengalami berbagai petualang yang mengasyikan. Meski hanya sekedar touring dengan motor ke Gunung Kidul, ke Temanggung, ke Magelang, ke Salatiga, ke Klaten, ke Kali Urang, touring dengan teman-teman sesama pemuda se-RT naik bis menyusuri pantai-pantai di pesisir utara Pulau Jawa dan pantai-pantai indah di Gunung Kidul, berarung jeram menyusuri Sungai Progo, mengikuti lintas alam di seputar Baturraden, menaiki kapal boat menyeberangi utara pulau Jawa ke sebuah pulau kecil yang aku lupa namanya atau menjelajahi Pulau Nusa Kambangan... Rasanya sudah seperti pecinta alam sejati deh... Hahaha.
Kalau boleh berandai-andai dan berangan-angan ingin rasanya aku berpetualang mengunjungi berbagai tempat yang indah dan menakjubkan di muka bumi ini. Pilihan pertama adalah ke Arab Saudi... Pilgrim Hajj... Menunaikan ibadah haji... Petualangan religi...(???) Melakukan ibadah haji merupakan kewajibanku sebagai seorang muslim sebagaimana tersurat dalam Firman Alloh SWT pada QS Al Imran : 97, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitulloh." Menjalani prosesi ritual haji mulai dari ihram (niat melakukan salah satu dari 2 ibadah, haji dan umroh, disertai dengan mengenakan pakaian tidak berjahit dan mengucapkan kalimat talbiyah: 'labbaikallohuma labbaik laa syariika laka labbaik, innalhamda wanni'mata laka walmulka laa syariikalak...' Ya Alloh, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu yang tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milik-Mu yang tidak ada sekutu bagi-Mu...), melakukan thawaf (berjalan mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali), sa'i (berjalan diantara Shafa dan Marwa pulang pergi dengan niat ibadah), wukuf di Arafah, thawaf wada'... Kemudian menyinggahi Masjid Nabawi di Madinah Al Munawarroh, tempat dimana Rasullulloh SAW dimakamkan. Merinding aku membayangkannya... Insya Alloh akan segera terwujud, paling lambat 5 tahun lagi. Doakan ya supaya semuanya lancar, dan aku bisa menjadi haji mambrur... Aamiinn... Well, sebenarnya ini tidak bisa dikategorikan sebagai petualangan seperti pada umumnya. Tapi bagiku ini adalah petualangan yang bersifat religius, yang membutuhkan persiapan khusus, baik materi, fisik maupun mental. Petualangan menjadi muslim sejati, menjadi haji mabrur, yang pengejawantahannya akan terlihat setelah nanti melaksanakannya, akankah menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya??? Petualangan batin untuk menggapai sesuatu yang hakiki, menjalankan salah satu rukun Islam dan memenuhi panggilan dan seruan Sang Pencipta Alam Semesta...
Pilihan kedua adalah ke Korea Selatan. Hehehe. Sejak serial drama 'Winter Sonata' yang dibintangi Bae Young Jun dan juga Choi Ji Woo meledak dan ditonton jutaan pasang mata sehingga melahirkan istilah 'Hallyu' atau 'Korean Wave', Korea Selatan menjadi destinasi tujuan wisata banyak orang. Agen-agen wisata ke Korea Selatan selalu menawarkan tour ke tempat-tempat yang pernah menjadi settingpembuatan beberapa drama Korea yang terkenal seperti Winter Sonata, Jewel in The Palace, The First Shop of Coffe Prince, Personal Taste, Queen Seon Deok, dll (lebih lengkap bisa mengunjungiwww.visitkorea.or.kr). Pulau Nami (tempat utama setting drama 'Winter Sonata''), Bandara Internasional Incheon (salah satu bandara terbaik di dunia, yang paling sering dijadikan setting drama-drama Korea), Bukchon Hanok Village (bagian outdoor rumahnya Gae In di 'Personal Taste'), Lotte World Amusement Park (taman bermain yang jadi setting 'Full House', 'Birth of a Rich Man', 'Boys Before Flower'), N Seoul Tower (ada kereta gantungnya yang menghubungkannya ke Gunung Namsan, en jadi tempat setting 'Boys Before Flower', ' Witch Yoo Hee', 'My name is Kim Sam Soon'), dan juga Pulau Jeju yang indah dan menawan (di Indonesia mungkin bisa disetarakan dengan Pulau Dewata, Bali...) Pokoknya banyaklah spot-spot lokasi syuting drama-drama berkesan yang bisa dikunjungi di Korea... *Damn... Two Thumbs up lah buat para sineas Korea yang membuat film-film dengan setting lokasi yang begitu indahnya, sehingga bikin diriku pengen ke sana. Salut juga buat Pemerintah Korea yang juga turut andil mempromosikan wisata negaranya lewat film dan drama... I wish our country (esp. Tourism Board) could do the same way too... v(^^,)*
Sementara pilihan destinasi di dalam negeri, tidaklah muluk-muluk. Tidak perlu jauh-jauh ke Danau Toba kemudian menyebrang ke Pulau Samosir, atau singgah ke Bukit Tinggi untuk melihat Jam Gadang dan memborong kripik singkong balado yang pedas dan renyah, atau mampir ke Tugu Khatulistiwa, divingdan menikmati pemandangan bawah laut Pantai Bunaken, menjelajahi Pulau Komodo, melihat secara langsung penduduk asli Papua berkoteka (oh,tidaaaakk!!!), atau berjemur di Pantai Kuta dan menikmati indahnya sawah-sawah berterasering di Ubud, Bali... No, no, no... Aku hanya ingin ke Jogja, Solo atau ke Bandung... Tentu saja bersama suami dan anak-anakku. Sudah lama sekali aku tidak ke sana. Setelah hamil dan melahirkan anak keduaku, Nadja, rasanya males banget jalan-jalan apalagi berpetualang keluar kota. Tenaga dan pikiranku rasanya sudah terkuras habis untuk mengurus anak-anak, rumah dan bisnisku. Apalagi kalau harus mengeluarkan uang untuk sekedar berlibur. Rasanya eman-eman... Mending buat modal bisnis ajah (apa emang karena pelit ya???)... Hehehe.
Jogja... Di kota penuh selaksa makna ini aku pernah menghabiskan waktuku lebih dari 5 tahun. Kuliah, belajar berorganisasi, mengenal arti persahabatan dan juga cinta sejati... Halah.. Berjuta kenangan tentang kota ini tersimpan kuat dalam memoriku. Sudut-sudut kota yang biasa aku lewati, mulai dari daerah Baciro, Malioboro, kampus UGM, Blunyah Rejo, seolah sudah menyatu dalam jiwa ini...Blusukan ke daerah-daerah yang lumayan jauh, ke Kota Gede, Pantai Parang Tritis, Kaliurang... Kulinernya yang menggugah selera. Selalu terbayang betapa yummy-nya makan di Warung Bu Tiwuk, warung di Jalan Pacar, Angkringan Mas Paijo n Mas Bob, Bakso Bawor, Pandawa, Soto Demangan, Moro Lejar, Cak Koting, Mataram Indah, Bandeng goreng di deket Pasar Lempuyangan yang sambal trasinya mak nyuuusssss, sampai yang berkelas seperti Mc Donald dan Pizza Hut... Tempat ngadem yang asyik saat lagi punya banyak duit di Malioboro Mall, Galeria atau Amplaz, atau sekedar memanjakan mata, memuaskan hobi membaca dan berbelanja buku ke toko Toga Mas, Gramedia dan Social Agency... Orang-orangnya yang selalu ramah, tidak mudah putus asa, suka menolong, guyub, meski musibah selalu saja mendera wilayah ini... Selalu, selalu dan selalu ingin kembali ke kota ini...
Solo atau Surakarta Hadiningrat... Hmm, entah kenapa aku juga selalu ingin mengunjungi kota ini. Mungkin karena suamiku pernah bersekolah di sini, aku jadi terbawa suasana ingin selalu mengunjunginya. Padahal bisa dihitung dengan satu jari saja kunjunganku ke kota ini. Pasar Klewer selalu menjadi tujuan utama saat singgah di sini. Sempat beberapa kali kulakan dagangan ke sini, karena harganya ternyata lebih miring dibandingkan di Pasar Bringharjo, Jogja. Tapi yang selalu membuatku penasaran adalah kulinernya yang endang gulindang dan sering sekali ditampilkan di acara semacam 'Wisata Kuliner' dan 'Bango Cita Rasa Nusantara'...
Bandung..... Surga belanja... Surga makanan... Hehehe. Meski katanya sekarang kota ini tidak seadem dan senyaman dulu, macet, sumpek dan amburadulnya hampir menyerupai Jakarta, tapi entah mengapa, aku suka kota ini... Suatu ketika, saat sedang mengunjungi adikku yang kebetulan kuliah di kota ini, aku pernah seorang diri berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Setia Budi sampai Cihampelas di siang bolong... Menghirup udara kota Bandung yang saat itu masih dipenuhi pepohonan. Iseng keluar masuk FO yang bertebaran di sepanjang jalan, tanpa membeli apa-apa. Benar-benar menikmatinya. Kemudian kulakan baju dan kerudung di Pasar Baru, yang harganya terkenal miring. Jadi inget, pakaian seragam untuk panitia dan keluarga saat aku menikah dulu, diborong di sini. Paris Van Java... Kota yang dipenuhi manusia-manusia kreatif dan hasil-hasil kreatifitasnya yang mengagumkan...
*****
Halooooo Ipi... Wake up!!! Hehehe. Sadarkah kamu dengan situasi dan kondisimu saat ini. Ngayal mulu pengen berpetualang. Situasi dan kondisiku saat ini memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk berpetualang, apalagi sampai ke negeri entah berantah. Waktu, kesempatan dan terutama yang ga ada duitnya... Hehehe. Yah, namanya juga obsesi terpendam... Sekarang ini aku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Tugas dan kewajibanku adalah mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak. Namun kadang timbul perasaan bosan hanya melakukan rutinitas yang sama setiap harinya. Ingin rasanya berpetualang seperti teman-temanku yang lain. Tapi, mana mungkin... Setelah menikah, apalagi memiliki 2 anak, rasanya tidak mungkin meninggalkan mereka hanya untuk berpetualang. Suamiku tentu saja tidak akan mengijinkan aku berpetualang seorang diri, apalagi sampai meninggalkan anak-anak sampai berhari-hari.“Tidak boleh seorang perempuan bepergian selama tiga malam kecuali bersama mahramnya...<HR. Muttafaq ‘alaih>". Begitu selalu suamiku mengingatkan diriku.
Sejak dulu aku merasa jiwaku adalah jiwa seorang petualang. Meski aku belum pernah sekalipun merambah gunung-gunung tertinggi ataupun pantai dan laut-laut terdalam, aku merasa kalau diriku adalah seorang petualang sejati. Dalam benakku, petualang sejati adalah mereka para pecinta alam, para backpackers, mereka yang berkesempatan menjelajahi berbagai negara, menjelajahi nusantara... An ordinary housewife being an adventurer??? Bisakah???
Saat keinginan untuk berpetualang berkecamuk, yang aku lakukan adalah mengubah cara pandang dan pola pikirku tentang 'being a real adventurer'. Berusaha membuang jauh-jauh keinginan itu. Bersyukur dengan apa yang aku alami sekarang ini. Berpetualang tidaklah harus dengan berpergian jauh... Berpetualang tidaklah selalu harus meninggalkan suami dan anak-anak...
Oxford Advance Learner's memberi definisi 'petualang' atau 'adventurer' sebagai berikut :
"A person who seek adventure (willing to take a risk, test new idea, experience new situation that full of danger and exitement)".
Menjadi ibu rumah tangga tidaklah harus selalu berada di dalam rumah, terkungkung dalam rutinitas harian, yang kadang justru membuat para wanita tertekan dan frustasi. Aku ingat sebuah hadist (tapi ternyata ada yang meragukan kalau ini adalah sebuah hadist) yang menyatakan bahwa,"Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak..." Banyak wanita yang merasa hidupnya biasa-biasa saja. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat apalagi bagi orang banyak. Setelah malakukan kegiatan rutin harian seperti memasak, membereskan rumah, mencuci, menyeterika, waktunya sepanjang hari dihabiskan untuk menonton tv dan tidur. Setiap ajakan untuk menghadiri pangajian apalagi mengikuti berbagai kursus ketrampilan yang dapat mengasah otaknya dan mengembangkan diri, ditolak, dengan dalih sudah terlalu lelah mengurus rumah tangga. Mereka yang sudah berumur pun selalu berdalih, percuma mengikuti berbagai kursus dan keterampilan untuk pengembangan diri, karena mereka merasa sudah tua, otak mereka sudah tidak sanggup lagi menampung berbagai macam ilmu dan ketrampilan... Hmm, betapa sia-sia waktu yang dimilikinya...
Dan bukan hal yang mustahil bagi seorang ibu rumah tangga untuk melakukan petualangan-petualangan dalan hidupnya. Seseorang yang memiliki rasa ingin tahu, menyukai setiap hal tak terduga, antusias pada perubahan, tidak mandek ketika situasi menjadi mapan, berani berpikir dan melakukan yg berbeda, sekaligus cermat mengukur besarnya resiko, itulah petualang sejati...
Aku bersyukur memiliki pengalaman hidup yang penuh warna. Bagiku, petualangan hidupku direpresentasikan ke dalam berbagai kegiatan dan talenta yang aku miliki. Banyak talenta yang Alloh berikan untukku, sehingga aku bisa berkreasi, mengembangkan diri, beraktualisasi, berkenalan dengan banyak orang, menyelami banyak karakter, menjadi diri sendiri... Suatu bentuk perjalanan hidup dan petualangan diri yang bagiku tidak kalah menyenangkan dari sekedar berpergian dan berkelana. Aku bisa menyanyi dengan baik, dan ini pernah mengantarkanku menjuarai beberapa kompetisi menyanyi tingkat lokal. Dan asal tau saja, aku memperoleh piala pertamaku saat aku sudah memiliki satu anak. Hehehe. Amat sangat terlambat bagiku ketika mengetahui aku memiliki potensi ini. Saat masih anak-anak dan remaja, aku belum memiliki keberanian untuk tampil di depan umum. Unjuk kebolehan di depan bupati atau petinggi-petinggi di kantor suami dan orang tuaku pernah kulakukan. Mendapatkan uang yang jumlahnya lumayan dalam sehari... Pujian??? Bukan hal yang luar biasa... Apalagi selepas menjuarai lomba atau manggung... (astaghfirullohal'adhiim, betapa besar kepalanya aku saat itu...) Sempat juga tampil satu panggung dengan beberapa artis yang kebetulan menjadi bintang tamu. Tapi sekarang aku sudah gantung mike dan tidak akan pernah menyanyi di depan umum lagi. Talentaku yang lain adalah qiroah , atau 'melagukan/melantunkan' ayat-ayat Quran. Aku pernah ikut kursus tilawah. Aku juga pernah menjuarai perlombaan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) semasa kuliah. Dengan talentaku ini aku sempat juga mengajarkan qiroah ibu-ibu di sekitar tempat tinggalku. Tapi seperti halnya menyanyi, aku tidak lagi melakukan tilawah dan qiroah di depan umum. Ada yang menganggap suara wanita adalah aurat. Memang benar... Justru ada mudharat ketika aku tampil di depan umum meski itu melakukan tilawah, apalagi menyanyi... Tapi aku tidak bisa mengungkapkannya di sini. Tapi aku justru bersyukur pernah mengembangkan dan bahkan berjaya dengan talenta ini. Aku mendapatkan banyak pengalaman, termasuk bagaimana caranya bernyanyi dan qiroah dengan baik dan benar dari para ahlinya, para master di bidangnya... Hehehe.
Talentaku yang lain adalah mengajar. .. Saat kuliah dulu, aku pernah iseng mendaftar menjadi tentor/pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di beberapa bimbingan belajar di Jogja. Dan semuanya ditolak!!! Hahaha... Memalukan... Entahlah, mungkin kemampuanku berbahasa Inggris memanglah pas-pasan. Apalagi saingan-sainganku juga punya basic dan jam terbang mengajar yang jauuuuuh lebih baik dibandingkan diriku... Sempat down, terpuruk, putus asa, merasa menjadi manusia yang tidak berarti (halah...). Sepertinya sia-sia sajalah perjuangan dan usahaku selama itu. Nilai bahasa Inggrisku selalu di atas rata-rata, belum lagi aku juga mengikuti kursus Bahasa Inggris secara intensif di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris terkemuka di Jogja. Selama bertahun-tahun aku hanya memanfaatkan kemampuanku ini untuk diri sendiri saja. Dan sangat terpakai ketika sedang mengerjakan skripsi, yang notabene selalu memanfaatkan referensi dari bacaan-bacaan berbahasa Inggris. Kesempatan pun kemudian datang menghampiriku. Di tahun 2003 aku direkomendasikan untuk mengajar ektra kurikuler bahasa Inggris di sebuah sekolah Islam swasta terkemuka di kotaku. Lagi-lagi aku ditolak... Hehehe. Tapi ternyata metode pengajaranku terlalu standar, dan aku diberi kesempatan kedua, namun diharuskan berimprovisasi menggunakan metode pengajaran sesuai dengan standar sekolah tersebut. Alhamdulillah di kesempatan kedua ini aku diterima. Hampir selama 6 tahun aku mengajar ekskul bahasa Inggris di sekolah itu. Kesempatanku mengajar setelah itu semakin terbuka lebar. Makin banyak orang tua yang mempercayakan aku untuk mengajarkan pelajaran Bahasa Inggris anak-anaknya. Aku pun mengajar privat. Lumayan buat nambah uang jajan... Aku pun bisa sambil momong anakku. Hampir di setiap kesempatan mengajar, Nadyne anak pertamaku, aku ajak serta. Tapi sejak melahirkan anak keduaku Nadja, aku berhenti mengajar. Sayang memang. Apalagi aku sangat menikmati aktifitas ini. Menghadapi tingkah-polah anak-anak yang energinya serasa tidak ada habisnya menguras tenaga dan sisi kreatifitasku. Aku benar-benar menikmatinya... Tapi mau bagaimana lagi, waktu dan tenagaku sudah terkuras habis mengurus anak-anak dan juga kegiatanku yang lain, berdagang... Saat ini aku hanya mangajar satu kelas privat saja, sekalian mengajari anakku. Yah, daripada harus mengeluarkan uang ekstra untuk kursus... Alhamdulillah, kemampuan berhasa Inggris-ku sekarang juga bisa dimanfaatkan sebagai penerjemah... Hehehe.
Satu obsesi tentang mengajar yang selalu aku pendam adalah keinginanku untuk mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan Islam, agamaku... Menjadi udzthadah... "Sampaikanlah, walau hanya satu ayat..." <HR. Bukhari> Hadist ini selalu menjadi pedomanku ketika sedang berusaha untuk menyampaikan segala sesuatu yang berkaitan tentang Islam... Pernah dulu aku membantu temanku mengajar TPA di Masjid Soko Tunggal, Jogja. Pernah juga aku mengisi materi pengajian di kelompok pengajian (liqo) ibu-ibu di seputar tempat tinggalku. Tapi, ah, itu tidak seberapa... Ilmuku masih dangkal sekali... Masih belum pantas menyandang predikat udzthadah.
Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam</span> bersabda,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia".
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang yang mempelajari ilmu agama yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya kepada umat manusia. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui setelah (tingkatan) kenabian, kedudukan yang lebih utama dari menyebarkan ilmu (agama)”
Dalam hadist lain yang semakna dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu dimohonkan (kepada Allah Ta’ala) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan...”.
Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia berarti telah menyebarkan petunjuk Allah Ta’alayang merupakan sebab utama terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan alam semesta beserta semua isinya, oleh karena itu semua makhluk di alam semesta berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan baginya, sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan perbuatannya.
Tidak mudah memang... Apalagi ilmuku belumlah seberapa, masih banyak yang herus aku pelajari. Belum lagi aku harus konsekuen, konsisten dan istiqomah, sementara banyak hal-hal sia-sia yang masih sering aku lakukan. Pertentangan dan kontradiksi dari mereka yang merasa tidak sepaham denganku selalu saja ada. Manyampaikan syiar lewat facebook saja dianggap menghakimi, menggurui, sok alim dan sebagainya... Tapi, wallohu'alam bi showab... Semoga aku selalu diberikan petunjuk untuk selalu berada di jalannya... Menunjukkan dan memperlihatkan bahwa Islam adalah "rahmatan lil 'alamiin..." Pembawa rahmat bagi alam semesta, bukan agama teroris...
Berdagang... Semasa kuliah, aku pernah bekerja sambilan menjadi agen asuransi. Pekerjaan yang hanya sekedar iseng belaka. Itung-itung cari pengalaman. Alhamdulillah aku bisa mendapat nasabah, meski tidak pernah memenuhi target. Hehehe. Namun aku ingat ucapan salah seorang trainer saat itu. "Kalau kita bisa menjual polis asuransi, dijamin kita bisa menjual barang-barang yang lain..." Memang betul. Setelah itu, menjual ternyata tidaklah sesulit yang dibayangkan. Aku mulai dengan berjualan produk MLM. Pelanggannya adalah para mahasiswa teman-temanku dan pekerja-pekerja pabrik di seputar tempat tinggalku. Hasilnya lumayan. Aku pun mencoba kulakan batik dan sprei yang kubeli di Pasar Bringharjo, kemudian aku titipkan di beberapa koperasi di Cilacap. Eh, laku juga... Lalu mencoba berjualan baju-baju muslim dan aksesoris. Ternyata laris manis... Aku pun bergabung dengan sebuah perusahaan direct selling produk plastik kenamaan. Lha kok sebulan omsetnya bisa jutaan... Aku mulai menggeluti kegiatan ini dan merasakan nikmatnya berdagang, berbisnis, berjualan... Pekerjaan yang bisa disambi sambil momong anak. Kita pun bebas menentukan kapan akan beraktifitas. Tidak ada bos yang mengatur kita, tidak perlu dikejar-kejar target. Semua kita sendiri yang mengatur. Namun sayangnya pekerjaan ini selalu diragukan oleh orang tuaku, karena dalam sejarah keluargaku, tidak ada satupun anggota keluargaku yang berdagang. Tapi aku berusaha mematahkan mitos itu. Keberhasilan berdagang bukan karena bakat, melainkan usaha dan kerja keras, tak lupa doa. Karena atas ijin Alloh lah, seseorang bisa berhasil menjadi pedagang yang sukses. Ada hadist yang mengatakan bahwa ,"Sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah dari perniagaan atau perdagangan..." Apalagi Rasulullloh SAW adalah juga pedagang yang sukses. Dan saat ini aku sedang menikmati kegiatan ini. Karena di sini aku bisa beraktualisasi diri, mengembangkan kreativitasku, mengenal banyak orang dan menyelami karakter manusia, memberdayakan sesama wanita dan Insya Alloh bisa bermanfaat bagi orang banyak... Tidak mudah memang mengubah paradigma menjadi seseorang yang anti kemapanan. Sudah sejak lama para orang tua di negeri ini lebih menginginkan anak-anaknya untuk menjadi pegawai. Padahal, negara-negara seperti Amerika, Jepang, Singapura menjadi maju karena banyak penduduknya yang menjadi pengusaha, berdagang... Aku pun ingat pesan rektor saat diwisuda dulu bahwa sarjana jangan hanya mencari pekerjaan saja, yang lebih penting lagi adalah bisa menciptakan lapangan pekerjaan... Yup, dengan berdagang, berjualan dan berbisnis, kita tidak hanya sekedar mendapatkan rejeki tambahan bagi diri sendiri dan juga keluarga kita, tapi Insya Alloh juga membuka lapangan pekerjaan, membuka pintu rejeki dan pastinya bermanfaat pula bagi orang banyak...
"Writting is my passion..." Ungkapan ini sering sekali aku temukan ketika sedang membaca kisah sukses para penulis berbakat... Sungguh, membaca tulisan mereka-mereka yang memang memilikipassion di bidang menulis menjadi inspirasi buatku. Subhanalloh, dengan menulis mereka bisa menceritakan suatu kejadian, menginspirasi dan memotivasi orang lain. Bisa dibayangkan juga, apa yang terjadi saat ini jika dulu Al-Quran tidak dicatat. Peperangan demi peperangan telah menghabisi para ulama penghafal Al-Quran. Andai saja saat itu yang hafal ada 100 ulama, kemudian 100 ulama itu meninggal, habislah Al-Quran yang ada di kepala mereka. Karena Zaid bin Tsabit, Abu Bakar dan sahabat-sahabat penulis lain mencatat Al-Quran, sekarang orang-orang Islam bisa membaca pesan- pesan Alloh itu. Peradabanan pun bisa kita ketahui lewat tulisan. Bagaimana bangsa-bangsa terdahulu mencapai kejayaannya, bisa menaklukkan dan berekspansi ke wilayah lain, penemuan-penemuan ilmiah, karya-karya sastra nan fenomenal, semua bisa diketahui lewat tulisan dan catatan-catatan peninggalan sejaran peradaban umat manusia.
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa,"Jika ingin menjadi bagian dari sejarah, maka menulislah..." Sejarah bisa diketahui lewat tulisan. Peradaban bisa terbentuk karena tulisan. Betapa menulismerupakan sesuatu yang sangat berarti. Dan aku sedang berusaha menjadikan menulis sebagai my passion... Bagiku menulis adalah suatu bentuk rekreasi yang mampu menenangkan fisik, pikiran dan perasaan. Tak terungkap dengan kata, bagaimana asyiknya menulis bagiku... Menulis tentang siapa aku, tentang keluargaku dan suka duka menjadi seorang ibu dan istri, tentang menjadi manusia pembelajar, tentang kisah-kisah di dalam Quran dan hadist, tentang Islam, tentang bisnis, tentang film, menulis novel dan cerpen, tentang apa saja yang terlintas dalam pikiranku, termasuk juga rutin menulis status dan memberi komentar di Facebook... Hehehe... Apa yang aku tulis mengalir begitu saja, kadang panjang tak karu-karuan (seperti tulisan ini), kadang singkat tapi penuh makna, dalam sekejap selesai, tapi tak jarang mambutuhkan waktu sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu tulisan. Ada beberapa adagium tentang menulis yang aku ambil dari beberapa sumber dan menjadi semacam pengingat untuk terus menulis...
- Menulislah karena yang Allah ciptakan pertama kali pun adalah pena.
- Menulislah karena ketentuan Allah (takdir) pun didokumentasikan-Nya dengan pena.
- Menulislah karena Allah pun mengajari manusia melalui pena.
- Menulislah karena amal kita pun ditulis malaikat dengan pena.
- Menulislah karena sang pemegang kunci gudang ilmu, Ali bin Abi Thalib, mengingatkan kita, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!”
- Menulislah karena dengan tulisanlah para ulama “mengabadikan” dan menyebarkan ilmunya.
- Menulislah karena Quran dan Hadits pun terdokumentasi dengan baik dengan tulisan.
Setiap orang memiliki petualangan dalam hidupnya. Tidak perlu lah melangkahkan kaki sampai ribuam km untuk menjadi seorang petualang, karena setiap potongan-potongan kejadian dalam diri seseorang adalah petualangan, yang tidak akan pernah sama antara satu pribadi dengan pribadi lainnya... Dalam prolog tulisan ini disebutkan bahwa,"Hidup pasti lebih bergairah, jika dijalani seperti penjelajah. Penuh rasa ingin tahu, menyukai setiap hal tak terduga, antusias pada perubahan. Tidak mandek ketika situasi menjadi mapan, berani berpikir dan melakukan yg berbeda. Ini memang soal keberanian, sekaligus kecermatan mengukur besarnya resiko." Yup, menjadi ibu rumah tangga tidak selalu harus terkungkung melakukan aktivitas yang sama setiap harinya. Banyak hal yang bisa dilakukan selama itu baik, selama itu positif, selama itu memberi manfaat bagi orang banyak... Mempelajari sesuatu yang baru, mulai dari mencoba resep masakan untuk disajikan bagi keluarga tercinta, belajar fotografi atau desain grafis, mencoba kursus bahasa asing, mengajar iqro bagi anak-anak tetangga di seputar rumah, berlomba menghafal suratan Al Quran dengan anak-anak kita, mencoba bisnis kecil-kecilan yang dimulai dengan yang berkaitan dengan kesukaan atau hobi, banyak hal mengasyikkan yang bisa dilakukan....
"I want to live my life to the absolute fullest, to open my eyes to be all I can be, to travel roads not taken, to meet faces unknown, to feel the wind, to touch the stars... I promise to discover myself, to stand tall with greatness, to chase down and catch every dream... LIFE IS AN ADVENTURE." <Nutrilon Royal Ads)>
Sudah pernah menyaksikan iklan susu anak-anak itu kan? Keren, bagus, n inspiratif banget... Anak-anak yang memiliki mimpi di masa depannya. Petualangan mereka menggapai mimpi itu. Dan aku pun masih punya banyak mimpi... Aku ingin hidupku penuh makna... Aku ingin menjadi apa yang aku inginkan... Menempuhi semua jalan, meski itu penuh penuh liku, dipenuhi halangan dan rintangan... Betemu dengan banyak orang... Mengapai angan dan asa... Tegak berdiri sejajar dengan peradaban, tanpa memandang siapa diriku...
Bagi sesama ibu-ibu, tetaplah semangat menapaki hidup, meski kaki kita tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Teruslah melakukan petualangan hidup yang penuh arti dan semangat... Buat teman-temanku para petualang sejati, teruslah berpetualangan... Jangan lupa sharing kisah-kisah menarikmu, dalam bentuk tulisan dan juga gambar ya, supaya kami para ibu-ibu rumah tangga pun bisa mengetahui berbagai bentuk peradaban dan budaya... Bagiku, HIDUP ADALAH PETUALANGAN, MESKIPUN AKU BUKANLAH SEORANG PETUALANG SEJATI... v(^^,)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar